Thursday, October 6, 2016

curhat sambil mbahas buku


Akhirnya ya... pegang buku ini juga setelah lewat beberapa bulan dari cetakan pertama. Nice as always, as expected from Fahd :)

Dibanding 2 buku sebelumnya yang temanya mirip, buku ini lebih terasa “keluarga” buat saya. Buku sebelumnya yang bersampul biru *uhuk* bikin baper banget *uhuk* sedangkan buku bersampul merah, meskipun formatnya novel, mau nggak mau, bikin saya mikir juga akhirnya.

Hampir sama seperti buku bersampul merah, buku ini juga bikin saya mikir. Merenung, kontemplasi, atau apalah itu sebutannya. Beberapa ada yang familiar karena sudah baca di postingan facebooknya Kang Fahd. Ada juga yang pernah disinggung di 2 buku sebelumnya. Bagian awal bikin tersentil, beberapa ada yang berbeda dengan pemikiran saya. I’m making some mental notes, though.

Beberapa bagian yang saya suka:

  • Teh Rizqa who’s good at finding something. Ibu saya juga begitu. Bapak sama saya bisanya gangguin aja, nanyain barang-barang di rumah letaknya di mana :D
  • Rumah yang berantakan. Terima kasih sudah memberikan perspektif bahwa kita tidak tinggal di rumah yang kosong. Abis baca bagian ini besokannya nyapu rumah dengan kesadaran penuh. Treasure, Rizki, treasure.
  • “Because I’m happy!” ~ Kalky

Waktu kecil dulu, saya pengen Bapak pulang kerja lebih awal, lebih punya banyak waktu di rumah, lebih sering bermain dengan saya meskipun saya sudah seharian bersama Ibu. Emang saya yang manja dan doyan main aja sih. Daddy’s little girl. Typical. Kadang saya berpikir orang tua tidak mengerti saya. Trus Bapak Ibu juga mikirnya begitu, saya nggak mengerti mereka :D

Anyway, tentang Kalky... I love this kid. Saya ingat fotonya waktu masih umur setahunan, pake baju putih sambil menjulurkan lidah. Those dimples... so cute. Sampai saya jadikan wallpaper laptop. “Biar semangat ngerjain skripsi.” Excuse aja sih. Sampai salah satu staf kampus yang nemenin saya nyiapin presentasi sebelum sidang lihat foto itu dan nanya, “Foto siapa itu? Lucu sekali.” Saya mikir. Dan cuma jawaban “Ponakan.” yang bisa saya lontarkan :D Maaf Kang Fahd, Teh Rizqa T.T

Buku ini menyadarkan saya tentang peran saya bukan hanya sebagai orang yang menghuni sebuah bangunan yang disebut rumah bersama dengan orang lain, tetapi juga sebagai bagian darinya, sebagai anggota keluarga, sebagai seorang anak, seorang muslim. Dan bahwa komunikasi itu penting. Beberapa pertengkaran dan kesalahpahaman mungkin memang tidak bisa dihindari. Saya merasa cara kami berkomunikasi dalam keluarga agak sedikit aneh, tidak seperti keluarga lain. Kayaknya memang harus lebih sabar, lebih pengertian.

Terima kasih Kang Fahd, untuk Sehidup Sesurga-nya. Semoga sekeluarga selalu diberkahi :)

Sunday, August 14, 2016

H2O Reborn Phase 0.1



Sama kayak versi onlinenya sih. Saya penasaran sama CD soundtracknya, hihihi.... Tapi baca cetak fisiknya gini rasanya emang beda sih ya...

Saturday, August 13, 2016

akhirnya


Sudah 5 bulan sejak pengen ini. Sebenernya udah selesai baca bulan kemarin sih. Tapi waktu itu bacanya langsung chapter 12, hahah... yes, saya senggaksabar itu. Akhirnya baca lagi dari awal.

NYC
I like Chrysler on the cover. Kayaknya itu satu-satunya landmark New York yang saya tahu. Buku ini meskipun kebanyakan settingnya di New York dan saya belum pernah ke sana, nggak membuat jadi “jauh” atau gimana. Udah terlanjur jatuh cinta sama Bapak Sungai kali ya, hihihi...
Satu-satunya tempat yang saya tahu di novel ini hanyalah Central Park di Manhattan. Tahunya juga dari Extreme Ghostbusters, hahah... Duh, jadi kangen Kylie sama Eduardo *baper* Tempat lain yang bikin penasaran: Paley Park, WORD bookstore in Brooklyn, and Montauk lighthouse.

Enlightment
Kata-kata dalam bahasa Inggris sesepele selfie stick, misalnya. I was like, ”Selfie stick apaan?” untuk kemudian nepuk jidat sendiri “Ya Allah, tongsis!” atau counterfactual thinking, hal yang sering dilakukan tapi tidak tahu namanya. I didn’t even know that it has a name! PostSecret dan cerita tentang bangunan-bangunan yang dilewati Raia dan River.

Favorite characters
Ya Bapak Sungai lah ya Well, River yang bikin jatuh cinta sama cerita ini. I like the way Kak Ika wrote details about him. Beanie hat abu-abu, lesung pipi, kaus kaki hijau, sneakers coklat, popcorn, the way he eats otak-otak...
I like Bang Paul dengan logat Bataknya. “Golek-golek.” Kalo di sini jadinya ”nyari-nyari” :D Aga and Mimi seem nice and fun, too. Mimi mewakili pembaca banget tuh, haha...

Favorite scenes
Mi instan! Sama waktu Mamaw jawab pertanyaan Raia di telepon.

Buku ini lumayan “padat” menurut saya, dengan flashback di sana-sini. Dan bisa banget ceritanya dilanjutin. Bisa banget :D I can live with this, though :D

Wednesday, June 29, 2016

Ramadan Kesepuluh

I initially googled famous, looked for some DIY tutorials, and ended up here. Blog yang bagus, btw. You guys should check it out.

Get free templates here.

I eventually made a pop-up card, too.

Also, check this one out.

Wednesday, January 6, 2016

kolase

'Pulang'. Betapa sering aku bertanya-tanya tentang apa arti dari 'pulang'. Ke pelukan Ibu? Ke kampung halaman? Atau yang hakiki, ke pangkuan Ilahi? Setiap manusia punya definisi 'pulang'-nya masing-masing. Mungkin, 'pulang' adalah ketika kita bertemu dengan wajah-wajah yang kita rindukan, berjumpa dengan kenangan-kenangan yang selama ini hanya bisa direnungkan. Mungkin, 'pulang' adalah saat kita bisa merebah kepala dengan tenang, melepas lelah setelah perjalanan panjang, menemukan damai setelah lama terombang-ambing dalam amukan perang batin.
halaman 50 chapter 7 - Kawan yang Mengagumkan; Konspirasi Alam Semesta ~ Fiersa Besari.