Akhirnya ya... pegang buku ini juga setelah lewat beberapa bulan dari cetakan pertama. Nice as always, as expected from Fahd :)
Dibanding 2 buku sebelumnya yang temanya mirip, buku ini lebih terasa “keluarga” buat saya. Buku sebelumnya yang bersampul biru *uhuk* bikin baper banget *uhuk* sedangkan buku bersampul merah, meskipun formatnya novel, mau nggak mau, bikin saya mikir juga akhirnya.
Hampir sama seperti buku bersampul merah, buku ini juga bikin saya mikir. Merenung, kontemplasi, atau apalah itu sebutannya. Beberapa ada yang familiar karena sudah baca di postingan facebooknya Kang Fahd. Ada juga yang pernah disinggung di 2 buku sebelumnya. Bagian awal bikin tersentil, beberapa ada yang berbeda dengan pemikiran saya. I’m making some mental notes, though.
Beberapa bagian yang saya suka:
- Teh Rizqa who’s good at finding something. Ibu saya juga begitu. Bapak sama saya bisanya gangguin aja, nanyain barang-barang di rumah letaknya di mana :D
- Rumah yang berantakan. Terima kasih sudah memberikan perspektif bahwa kita tidak tinggal di rumah yang kosong. Abis baca bagian ini besokannya nyapu rumah dengan kesadaran penuh. Treasure, Rizki, treasure.
- “Because I’m happy!” ~ Kalky
Waktu kecil dulu, saya pengen Bapak pulang kerja lebih awal, lebih punya banyak waktu di rumah, lebih sering bermain dengan saya meskipun saya sudah seharian bersama Ibu. Emang saya yang manja dan doyan main aja sih. Daddy’s little girl. Typical. Kadang saya berpikir orang tua tidak mengerti saya. Trus Bapak Ibu juga mikirnya begitu, saya nggak mengerti mereka :D
Anyway, tentang Kalky... I love this kid. Saya ingat fotonya waktu masih umur setahunan, pake baju putih sambil menjulurkan lidah. Those dimples... so cute. Sampai saya jadikan wallpaper laptop. “Biar semangat ngerjain skripsi.” Excuse aja sih. Sampai salah satu staf kampus yang nemenin saya nyiapin presentasi sebelum sidang lihat foto itu dan nanya, “Foto siapa itu? Lucu sekali.” Saya mikir. Dan cuma jawaban “Ponakan.” yang bisa saya lontarkan :D Maaf Kang Fahd, Teh Rizqa T.T
Buku ini menyadarkan saya tentang peran saya bukan hanya sebagai orang yang menghuni sebuah bangunan yang disebut rumah bersama dengan orang lain, tetapi juga sebagai bagian darinya, sebagai anggota keluarga, sebagai seorang anak, seorang muslim. Dan bahwa komunikasi itu penting. Beberapa pertengkaran dan kesalahpahaman mungkin memang tidak bisa dihindari. Saya merasa cara kami berkomunikasi dalam keluarga agak sedikit aneh, tidak seperti keluarga lain. Kayaknya memang harus lebih sabar, lebih pengertian.
Terima kasih Kang Fahd, untuk Sehidup Sesurga-nya. Semoga sekeluarga selalu diberkahi :)







